Kegiatan menceritakan dongeng sebelum tidur bukan hanya sekadar rutinitas malam hari, tapi juga jembatan emosional yang menghubungkan hati orang tua dan anak. Melalui cerita, lahirlah kedekatan, kehangatan, dan rasa percaya yang menjadi fondasi penting dalam perkembangan psikologis anak. Inilah mengapa mendongeng disebut sebagai cara alami untuk membangun hubungan yang kuat dan bermakna dalam keluarga. Untuk panduan pengasuhan modern yang penuh makna, kunjungi www.optimaise.co.id.
Mengapa Dongeng Sebelum Tidur Penting bagi Hubungan Orang Tua dan Anak
Di era digital yang serba cepat, banyak interaksi keluarga digantikan layar. Anak-anak sibuk dengan gawai, sementara orang tua disibukkan pekerjaan. Di tengah kesibukan itu, dongeng sebelum tidur menjadi momen sederhana namun penuh makna โ ruang tenang di mana percakapan, emosi, dan kasih tersampaikan tanpa distraksi.
Menurut para psikolog anak, rutinitas mendongeng memiliki efek menenangkan dan meningkatkan rasa aman. Anak akan merasa diperhatikan, didengarkan, dan dihargai. Sementara bagi orang tua, kegiatan ini menjadi cara alami untuk memahami dunia batin anak โ apa yang mereka rasakan, pikirkan, dan impikan.
Dongeng juga menjadi media komunikasi emosional efektif. Anak belajar memahami kasih sayang melalui nada suara lembut orang tua dan isi cerita yang sarat pesan moral. Kedekatan ini menciptakan ikatan (bonding) yang kuat dan bertahan lama hingga dewasa.
Dongeng sebagai Sarana Mengembangkan Empati dan Kepercayaan
1. Belajar Memahami Perasaan Melalui Cerita
Saat anak mendengar kisah seperti Putri Salju, Bawang Merah dan Bawang Putih, atau Si Kancil yang Cerdik, mereka belajar mengenali berbagai emosi โ bahagia, sedih, takut, hingga berani. Cerita membuat anak berlatih memahami perasaan tokoh lain, yang pada gilirannya menumbuhkan empati.
Empati ini kemudian akan terbawa ke kehidupan nyata. Anak yang terbiasa mendengarkan dongeng cenderung lebih peka terhadap perasaan orang lain, lebih mudah bergaul, dan lebih jarang terlibat konflik sosial di sekolah.
2. Menumbuhkan Rasa Percaya kepada Orang Tua
Dalam proses mendengarkan cerita, anak fokus pada suara dan ekspresi orang tua. Interaksi penuh perhatian ini menciptakan rasa aman yang memperkuat kepercayaan. Ketika anak merasa nyaman berbagi emosi, mereka akan tumbuh dengan rasa percaya diri dan keterbukaan terhadap komunikasi.
Bonding semacam ini tidak muncul secara instan, tetapi terbentuk melalui kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten. Dongeng sebelum tidur adalah salah satunya.
Baca Juga: How Deforestation Gorontalo Is Being Prevented
Efek Positif Dongeng terhadap Perkembangan Anak
1. Stimulasi Kognitif dan Bahasa
Dongeng membantu memperluas kosakata dan kemampuan berbahasa sang anak. Setiap kali mendengarkan cerita, mereka belajar mengenali struktur kalimat, intonasi, serta makna kata baru.
Menurut penelitian, aktivitas mendengarkan dan mengulang cerita memperkuat area otak yang berhubungan dengan memori dan pemahaman bahasa. Akibatnya, anak yang terbiasa mendengarkan dongeng memiliki kemampuan verbal yang lebih baik di usia sekolah.
2. Pembentukan Nilai Moral Sejak Dini
Dongeng mengandung pesan moral yang mudah untuk diserap anak. Misalnya, Timun Mas mengajarkan keberanian, Malin Kundang mengingatkan pentingnya berbakti kepada orang tua, sementara Kancil dan Buaya mengajarkan kecerdikan dan tanggung jawab.
Melalui tokoh dan alur cerita, anak memahami perbedaan antara benar dan salah tanpa merasa digurui. Nilai-nilai ini akan tertanam kuat dalam kepribadian mereka dan menjadi kompas moral dalam kehidupan sehari-hari.
3. Mengurangi Stres dan Meningkatkan Kualitas Tidur
Ritme lembut dari suara orang tua dan alur cerita yang tenang membantu menurunkan kadar stres pada anak. Dongeng menjadi ritual yang memberi sinyal bagi otak bahwa waktu istirahat telah tiba, membuat anak lebih mudah tidur dengan perasaan aman dan bahagia.
Cara Efektif Menceritakan Dongeng agar Bonding Semakin Kuat
1. Gunakan Intonasi dan Ekspresi yang Hidup
Anak-anak menyukai variasi suara. Gunakan intonasi berbeda untuk tiap karakter โ suara lembut untuk tokoh baik, suara berat untuk tokoh jahat. Tambahkan ekspresi wajah dan gerakan tangan ringan untuk memperkuat visualisasi cerita.
Dengan cara ini, anak tidak hanya mendengarkan, tetapi juga merasakan cerita, seolah mereka berada di dalamnya.
2. Pilih Cerita yang Sesuai dengan Usia dan Kondisi Emosional Anak
Untuk anak usia dini, dongeng dengan hewan antropomorfis seperti Kelinci dan Kura-Kura atau Kancil dan Buaya sangat cocok. Sementara anak usia sekolah dasar bisa diperkenalkan pada kisah dengan konflik moral seperti Bawang Merah dan Bawang Putih atau Lutung Kasarung.
Cerita yang terlalu kompleks dapat membuat anak kehilangan fokus, sedangkan cerita yang terlalu sederhana bisa menimbulkan kebosanan. Kesesuaian tema dan tingkat pemahaman anak adalah kunci.
3. Ajak Anak Berpartisipasi dalam Cerita
Interaksi dua arah meningkatkan kedekatan emosional. Misalnya, ajukan pertanyaan sederhana:
-
โKalau kamu jadi Timun Mas, apa yang akan kamu lakukan?โ
-
โMenurut kamu, siapa yang paling baik dalam cerita ini?โ
Pertanyaan seperti ini mengasah kemampuan berpikir kritis anak sekaligus memperdalam komunikasi orang tuaโanak.
4. Sisipkan Nilai Tanpa Menggurui
Alih-alih memberi nasihat setelah cerita selesai, biarkan anak menyimpulkan maknanya sendiri. Misalnya, โKira-kira kenapa Kancil bisa selamat ya?โ Dengan begitu, anak belajar berpikir reflektif dan menginternalisasi nilai moral secara alami.
Kegiatan menceritakan dongeng sebelum tidur bukan hanya sarana menghibur, melainkan bentuk cinta yang tak tergantikan. Di balik setiap kalimat dan tokoh yang hidup, terdapat pesan, emosi, dan ikatan yang tumbuh dalam hati anak. Dengan konsistensi dan kesungguhan, orang tua tidak hanya menanamkan nilai moral, tetapi juga menciptakan kenangan indah yang akan melekat sepanjang hidup anak โ sebuah warisan kasih yang tak lekang oleh waktu seperti penjelasan sttbci.ac.id.



